Selasa, 19 Maret 2013

"Someone Killing You" Peserta Lomba Membuat FF #3


Author: Icha a.k.a Han hyekwang
Fb: Icha
Twitter: @Hanna_mapphie
Title:  Someone Killing You
Main cast:       
  • Jung Rae in [OC]
  • Oh Sehoon [Exo K]
  • Jo Youngmin [Boyfriend]
Support cast:
  • Jung So Jung/Krystal [F(x)]
  • Kim Donghyun [Boyfriend]
  • Jin Young [B1A4]
  • Oh Hyerin/Raina [After school]
  • Bang Min ah [Girls Day]
  • Etc
Genre: Mystery , murder, little of horror, crame, etc.
Rated: PG-13
Length: Oneshoot

Disclaimer & Copyright: Plot, OC , teka-teki, dan ide cerita murni milik Author. No copas, plagiarism, reshare, repost and etc. Mohon hargai saya sebagai Author, Khamsahamnida~ ^^

===Happy Reading===

Jung Rae in pov---

Segelincir cahaya mentari terlihat menembus celah-celah pohon pinus yang berdiri rindang di sekitar kami.Sungguh silau, hingga membuatku sedikit mengerjapkan mata dibuatnya.Tumpahan air dari jurang curam yang tak jauh dari kamipun terdengar menyeruak, sangat indah, akupun menikmatinya dengan hembusan angin yang berhilir lembut menghembus rambutku.

Priiit Priiiit..

Sebuah bunyi peluit nyaring terdengar keras memenuhi camp, membuat seluruh siswa berkumpul.Membentuk sebuah lingkaran besar dengan seorang namja bertopi layaknya sheriff yang berdiri tepat di hadapan kami.

“Selama 6 hari kalian akan menginap dan berkelana di sini, menjelajahi hutan, berenang di sekitar danau, memancing, bahkan hiking, kalian bisa bebas bersenang-senang!” ucap namja itu dengan speaker yang ia genggam pada tangan kanan, membuat para siswa tersenyum lebar setelah mendengar ucapan namja itu “TAPI... Kalian harus patuh pada perkataan sunbae-sunbae kalian, tidak boleh berpacaran, ciuman, bahka tidur dengan pasangan kalian.Satu kamar harus dihuni sesama yeoja dan sebaliknya.”

Seorang namja yang tadinya mengenggam tangan seorang yeoja yeoppo pun langsung melepaskan genggamannya setelah seorang sunbaenim menatapnya dengan tajam. Membuat seorang yeoja disampingnya mengerutkan dahi dengan mata yang ia sipitkan.

“Namanya Kim Donghyun, ketua panitia camp. Lebih baik kau jangan berurusan dengannya,” bisik So jung bernada dingin. Dan entah mengapa tanpa sengaja aku mengalihkan pandangan kearah seorang namja yang sedari tadi menatapku dengan seulas senyuman manis. Iapun kemudian melambaikan tangan ke arahku, membuat beberapa namja di sampingnya menepuk bahunya seraya tertawa.

“Kekeke, sepertinya dia tertarik denganmu,”

“Aissh, So jung-ah. Kau bicara apa?”

“Namanya Oh Sehoon, namja terpopuler di School of performing art Seoul. Kau beruntung kalau bisa mendapatkannya,” So jung menatapku dengan seulas senyuman genit “Dan namja yang disampingnya itu namanya Jin Young, namja yang terkenal dengan senyuman mautnya. Ahh, aku berharap dia menjadi milikku,” So jung menyentuh kedua sisi pipinya yang telah dipenuhi oleh semburat warna merah muda.

“Dan namja yang menyendiri di balik pohon itu, siapa?”Aku mendongakkan kepalaku, menatap seorang namja berambut blonde yang menyandarkan punggungya di balik pohon pinus.

“Namja itu?” So jung melingkingkan suaranya “Lebih baik kau jangan mendekatinya. Namanya Jo Youngmin, namja aneh yang selalu menyendiri. Ku dengar ia bahkan pernah mendapat kasus di sekolah karena telah memukul seorang namja tanpa alasan, dan terkadang tertawa sendiri dalam kesunyian kelas saat pelajaran berlangsung,”

“Geureyo?”

“Ne, walaupun dia manis dan tampan aku tak yakin hatinya juga senada dengan parasnya.”

“Baiklah, sekarang kalian bisa kembali ke kamar kalian masing-masing untuk merapikan barang-barang kalian dan mempersiapkan diri kalian untuk kegiatan nanti malam!!” ucap seorang sunbae dengan suara yang lebih keras dari sebelumnya, membuat seluruh siswa kembali ke camp mereka masing-masing.Begitu pula seorang namja misterius yang sedari tadi hanya menyendiri di balik pohon pinus.
XXXX
“Apakah kau siswi baru itu?” seorang yeoja berambut ikal menatapku seraya tersenyum manis

“Ne, Jung Rae in imnida,”

“Oh, Bang Min ah imnida.Bangapta!” yeoja itupun membalas sebuah jabatan hangat tanganku. Dan kami tersenyum manis bersama, saling menatap mata kami satu sama lain.

“Ahh, apa yang akan kita lakukan malam hari nanti,”  So jung melemparkan tubuhnya tepat kemuka ranjang empuk seraya menatap atap kayu dengan lekat.

“Mollayo, mungkin pembukaan kegiatan di camp. Biasanya para sunbae akan membuat kejutan di sela-sela acara, kadang-kadang lelucon busuk dan terkadang juga cerita horror yang mengejutkan,”

“Jinjja?”

“Sungguh kekanak-kanakan,” ucap So jung datar, iapun kemudian dengan cepat menaruh sebuah bantal tepat diatas kepalanya dan mulai memejamkan kedua matanya dengan erat.
XXXX
Malam hari telah tiba di tengah hutan yang penuh dengan kicauan burung gagak yang terdengar pada dahan pohon disekitar kami.Seluruh siswa berkumpul di lapangan utama yang penuh dengan lampu bohlam beraneka warna yang terlihat indah.Begitu pula beraneka macam makanan ringan dan cup cake yang tertaruh rapi di sebuah meja besar tepat di hadapan kami.

“Terima kasih telah hadir pada acara pembukaan ini, dan dengan besar hati aku berharap agar kalian betah di camp sederhana kami,” seorang sunbae yeoja berkata dengan lantang tepat di tengah-tengah kumpulan siswa

“Karena ini hanya acara pembukaan, jadi kalian boleh bersenang-senang dan mengambil beberapa kue beserta minuman di sini.Tapi ingat, jangan sekali-kali meminta soju, karena segelas soju tak akan ada pada malam ini!” teriak Donghyun sunbae, membuat beberapa namja menghela nafas dengan gusar.

Aku dan So jungpun berjalan ringan di atas rumput halus, menikmati pemandangan indah beserta gunung-gunung di malam hari dengan sepotong kue chocolate di genggaman tangan kami.

“Ehem..,” seorang namja berpakaian biru muda mendekat, membuat So jung entah mengapa tersenyum aneh

“Ahh, aku ada urusan dengan Min ah, bagaimana aku bisa lupa?”“Rae in-ah, aku duluan.Pai paii!” So jung dengan cepat berlari meninggalkanku dan namja itu di tengah gelapnya malam dengan hanya satu lampu bohlam yang bergantungan pada dahan pohon.

“Kau kah yeoja baru yang bernama Rae in?”

“Ne,” entah mengapa kau merasa malu, dan menundukkan kepalu secara refleks

“Oh Sehoon imnida,” ia tersenyum manis, lantas memberi sebuah jabatan hangat ke arahku.

“Bangapta,” balasku tersenyum tipis.Dan tanpa kami duga kami tersenyum secara bersamaan, membuat keadaan canggung makin terasa di benakku.

Walaupun tanpa kami sadari dari balik pepohonan rindang seorang namja menatap kami dengan tajam.Ya, seorang namja berambut blonde yang terdiam beku berdiri di balik pohon dengan sebuah benda aneh pada tangannya.

“KYAAAAA!!”

Pukk...

Sebuah kue kecil terjatuh setelah sebuah jeritan seorang yeoja terdengat memenuhi penjuru hutan hingga membuat burung gagak berterbangan meninggalkan dahan-dahan pohon.

Sontak aku dan Sehoon tersentak kaget dan dengan cepat berlari menuju camp, meninggalkan sepotong kue kecil yang tergeletak diatas rumput.

“A, ada apa ini?” tanyaku pada So jung dengan mata yang ku lebarkan penuh. Entah mengapa seluruh siswa terdiam ketakutan, sedangkan beberapa sunbae terlihat berlarian lalu lalang melewati tubuhku dengan wajah panik.

“Seorang yeoja menemukan tiga kepala anjing, kucing, dan musang menggantung di dahan pohon yang diikat dengan benang.”

“M, mwo,”

“Ku pikir awalnya para sunbae membuat lelucon dengan boneka kepala hewan untuk mengejutkan kami. Tapi ternyata tidak, itu benar-benar kepala yang menggantung pada dahan pohon dengan darah dan daging tercabik-cabik busuk di lehernya,”

“Hueeeekk!” seorang yeoja yang berdiri tak jauh dariku memuntahkan isi perutnya setelah seorang sunbae membawa sekantong kepala hewan dengan bau tak sedap yang menjalar di mana-mana.
XXXX
Acara pembukaan berjalan dengan buruk.Dan kami dengan paksa di suruh kembali masuk kedalam kamar kami sampai besok pagi.Entahlah, aku masih belum sepenuhnya mempercayai pembukaan acara yang seharusnya berakhir menyenangkan menjadi sperti ini. 

“Rae in-ah.. Apa kau bisa tidur?” suara So jung terdengar parau di dalam kegelapan, membuatku terhenyak dalam lamunanku

“Aniya, sepertinya aku tak bisa tidur malam ini.”

XXXX
Rae in pov end---
Author pov---

“Berbarislah dalam satu barisan sambil bernanyi menuju danau, bukankah itu menyenangkan?”Hyerin sunbae menggenggam sebuah toa, menggiring kami berjalan menuju danau “Entah siapa yang kemarin melakukan tindakan bodoh seperti itu, jangan kalian fikirkan.Hwaiting!!”Imbuhnya seraya tersenyum lebar, melangkah dengan hentakan kaki yang keras untuk memberikan semangat kepada mereka.

Sampai pada sebuah tempat yang di penuhi bunga-bunga lily dan dandelion kuning. Desiran air terjun makin terdengar keras, berjatuhan seperti suara hujan deras yang dipenuhi dengan guntur.

“Kali ini kalian di beri tugas mengumpulkan sampah disekitar danau!buatlah kelompok sebanyak dua orang, dan kumpulkanlah sampah-sampah dengan menggunakan canoe!!” Donghyun sunbae menatap wajah mereka satu persatu dengan tajam, membuat Rae in tak begitu nyaman dengan tatapan sombong seperti itu “Dan jangan memberanikan diri untuk bersenang-senang, waktu bersantai akan dimuali ketika kedua mataku tak melihat tumpukan sampah diseluruh danau!Arrseo??”

“NE!” teriak semua murid dengan serempak, tak terkecuali seorang namja blonde yang secara sembunyi-sembunyi menatap Rae in dicelah tubuh siswa-siswa lain.

“Apakah So jung bersamamu?”Sehoon lagi-lagi mendekati Rae in dengan tiba-tiba, membuat yeoja itu sedikit berjinjit terkejut dibuatnya

“Ani, dia bersama Jin young,”

“Ahh, kalau begitu bisakah aku yang bersamamu?”

“G, gwaencaha.. Tapi aku yang di depan,” tukas Rae in tersenyum tipis, dan dengan cepat menaiki sebuah canoe berwarna kuning, diikuti Sehoon yang secara hati-hati duduk di belakangnya.

“Sampahnya banyak sekali,” dengus Sehoon seraya mengerucutkan bibirnya

“Lihat, air terjun itu mengalir dari kota dan berakhir disini. Jelas semua sampah akan terkumpul di danau ini,”

“Ishh, apakah mereka tak mempunyai tempat pembuangan lain selain sungai?”

SEETT...

Entah mengapa Rae in hanya terdiam beku tanpa mengambil beberapa botol kosong yang mengambang tepat di hadapannya.

“Rae in-ah, kau tidak apa-apa?”

“A, aku melihat bayangan seseorang yang berlari dari pohon besar itu dengan begitu cepat ke arah selatan,” tukas Rae in dengan suara bergetar

“Apa kau yakin, aku tak melihat apapun disana,”

“Jinjja?”Rae in mulai memutar kepalanya, menatap wajah Sehoon dengan lekat “Ahh, mungkin aku hanya berhalusinasi,”
XXXX
Sore hari telah tiba dan danau telah bebas dari sampah yang tadinya mengambang berhamburan di seluruh penjuru danau. Gerombolan murid School of performing art Seoul yang berjumlah 34 orang siswa itupun akhirnya berjalan kembali ke camp dengan basah kuyup, dan semburat senyuman lebar yang terpancar dari wajah mereka masing-masing.

“Apa  kau tadi bersama Jin young?” Min ah menatap So jung dengan senyuman genit

“Ahh, jangan bicara itu lagi. Kau bisa membuatku pingsan~” semburat warna merah merona kembali muncul pada kedua sisi pipi So jung. Membuat Rae in dan Min ah sontak tertawa geli karenannya.

“KYAAAA!!” terdengar sebuah jeritan yeoja lagi yang membuat So jung dan Min ah tersentak kaget untuk kedua kalinya. Namun kali ini terdengar lebih nyaring dan keras karena bukan hanya satu yeoja yang berteriak histeris.

Pada sebuah pohon pinus yang berdiri tegak disamping gudang camp, tak begitu jauh dari So jung dan Min ah berdiri. Terlihat seonggak tubuh seorang sunbae terduduk tanpa nyawa dengan darah yang berdesir dari kepala yang telah pecah.Menetes deras, hingga membentuk sebuah genangan kecil pada tanah.

KYAAAA~
Jerit siswa lain tak kuasa, dan kemudian pingsan tanpa bergerak sedikitpun.

XXXX
Dimohon untuk seluruh siswa masuk kedalam kamar masing-masing.Jangan sekali-kali keluar satu langkahpun dari kamar kalian. Polisi akan datang, jadi kami mohon partisipasi dari kalian untuk tetap berada di kamar.Terima kasih!!

Pengumuman pada speaker camp membuat So jung makin frustasi “Apa, dia ingin kita berdiam diri didalam kamar tanpa melakukan apapun dengan pembunuh yang berkeliaran disekitar kita?”

“So jung-ah,” Min ah membelai bahu So jung dengan lembut, namun So jung tetap mengerutkan dahinya. Dan kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Rae in yang hanya terdiam membisu dengan tubuh yang pucat, pandangannya kosong, sedangkan sebuah butiran air mata mulai meluncur melalui ujung kedua matanya.
XXXX
“Sial! Siapa sebenarnya orang dibalik semua ini!!” teriak Donghyun setelah memukul bibir meja dengan sebuah bat basball

“Semua telefon dicamp tiba-tiba rusak, sinyal diseluruh camp malah tiba-tiba tidak ada, beberapa lampu ditempat tertentu pecah, sedangkan semua mesin mobil kita dirusak seseorang, tidak menyisakan satu mobilpun,”

“Mungkinkah dia adalah salah satu dari siswa?” ucap Hyerin sunbae dengan raut ketakutan yang memeras seluruh keringatnya

“Tidak, saat kita ke danau seluruh siswa ikut bukan. Hanya Seungji yang bertugas menjaga camp sendirian,”  “Kau ingat tulisan yang ada digenggaman Seungji?” imbuh seorang sunbae lain

“Ya, itu ditulis dengan darah Seungji.Jangan sekali-kali keluar dari camp atau kematian akan menjemputmu,” tukas Donghyun dengan nada yang sangat menakutkan, membuat keempat sunbaenim yang berada diruangan mereka terdiam ketakutan.

XX SKIP XX
Author pov end---
Rae in pov---

“BAGAIMANAPUN KAMI MASIH INGIN HIDUP!!” teriak seorang namja membentak Donghyun sunbae dengan raut wajah penuh amarah.

“KUBILANG TETAPLAH DISINI!” balas Donghyun sunbae jauh lebih keras dengan bentakan namja itu.

“JUMLAH KAMI 26 ORANG!MANAMUNGKIN KAMI BISA DITUMBANGKAN ORANG BRENGSEK ITU!!”

“SAAT SAMPAI DIDESA GWANJO KAMI AKAN MELAPOR POLISI. Bukankah itu jauh lebih baik!!” teriak namja lain

“Mianhaeyo, aku juga ingin ikut mereka,” seorang sunbae namja berambut ikal melangkah dengan wajah yang ia tundukkan

“J, ji min?Kau?”Donghyun sunbae hanya bisa terhenyak, terdiam dengan bola mata yang melebar. Sedangkan aku dan So jung beserta siswa lain yang memilih untuk menetap di camp hanya bisa menonton mereka seperti penonton teater.

“Baiklah, jumlah kami sekarang 27 orang.Apa kau bisa menghentikan kami saat ini?”

“BAIK!!” bentak Donghyun sunbae memalingkan wajahnya tanpa menatap mereka “Silahkan pergi sesuka hati kalian!” iapun dengan cepat berbalik dan pergi tanpa mengucapkan salam perpisahan apapun kepada mereka, dan membuka gerbang dengan wajah penuh amarah.

Entah mengapa aku merasakan hal aneh ketika melambaikan tangan kepada 27 orang tersebut.Begitu juga 9 orang yang masih tersisa dicamp.Sebutir air mata pun meluncur begitu saja mengiringi kepergian mereka.

“Sampai jumpa kawan, semoga kalian selamat sampai tujuan~,”
XXXX
Sore hari di camp, kami berkumpul dilapangan utama tanpa alasan tertentu. Hanya untuk menjaga satu sama lain. Dengan seorang sunbae berkaca mata yang sedari tadi mengecek telefon yang telah rusak.

Dzeeeertt..“Hallo, satu dua tes. Apa ada orang disana? Kami terjebak dihutan, sedangkan ada pembunuh yang mengincar kami disini.Tolonglah!”  ‘Dzeeertt...’ ucap sunbae itu dengan telefon yang hanya mengeluarkan bunyi aneh

“Saat keluar dari sini aku hanya ingin memeluk eommaku,” gumam So jung dengan bola mata yang menatap langit biru “Dan mengatakan bahwa aku sangat menyayanginya,”

“Ya, 911.Kami sedang berada dijalan menuju hutan, dzeeert” tiba-tiba suara seorang pria muncul dari telefon, sontak membuat sunbae berkaca mata itu langsung berteriak kegirangan. Membuat seluruh siswa dan para sunbaelain berkumpul membentuk lingkaran kecil yang melingkarinya, begitupula namja blonde misterius itu.

“Ya, kami masih ada di camp dekat danau Kyagi.Bisakah kalian sampai disini sebelum matahari terbenam?”

“Ya, tentu saja!”

“YEAAAH!!” sontak semua orang terlihat meloncat sembari mengangkat kedua tangan mereka tinggi-tinggi, lantas berpelukan satu sama lain. Seperti yang ku lakukan dengan So jung dan Min ah. Walaupun Sehoon juga memelukku dengan tiba-tiba, membuatku merasakan canggung untuk yang keseribu kalinya.

“Rae in-ah, kita akan pulang!”

“Hei, apa itu!”

“Tunggu, mereka belum menutup telefon,” ucap sunbaenim berkaca mata, membuat kami dengan refleks terdiam lagi walaupun kali ini dengan senyuman lebar.

“Tess, apa kau masih ada disana?”

“Ne, kami masih disini. Ada apa?” balas sunbae menatap kami dengan ekor matanya

“A, ada tumpukan mayat tepat didepan mobil kami.Apa yang sudah terjadi?”

“Mwo, apa kau bilang?”

“Ada tumpukan mayat disekitar jalan yang membuat mobil kami tidak bisa melaju melewatinya.Bahkan beberapa tubuh mereka ada yang terpotong-potong. Ada apa ini sebenarnya? Tolong jelaskan!!”suara itu mulai terdengar parau

“Apa mayat-mayat itu memakai sapu tangan berwarna merah dipergelangan tangan mereka?” Donghyun sunbae merebut telefon dengan cepat

“Ya, mereka semua memakai sapu tangan yang diikat dipergelangan tangan. Dan ada pria yang memakai topi sheriff disini,”

“J, ji min,” lirih Hyerin sunbae lantas menangis tepat di belakang Donghyun sunbae

“Itu Ji min sunbae,”

“Ti, tidak. Ini tidak mungkin terjadi,”

Doorrr!!

Semua orang sontak terdiam membatu saat sebuah suara tembakan muncul melalui telefon tua itu.“Tes tes, apa yang sudah terjadi,” Tak ada suara menyahut, hanya dentuman suara tembakan yang bertubi-tubi terdengar jelas dari telefon.

“Halo, hallo!Kumohon jawablah!!”

Doorr,, Dorrr!!
“Menjauh, menjauhlah!”

“Apa yang sudah terjadi?”

“K, kami diserbu,” ~~~ Dorrr.. Doorrr!!

“D, diserbu?”

“Diserbu apa?” teriakDonghyun subae penuh emosi, namun tak ada suara siapaun yang menjawab.Hanya suara tembakan berulang-ulang dan jeritan wanita yang terdengar melengking.

“Arrrgh...!!”

Tit..Tit.. Tit...

Seketika semua orang hanya terdiam membisu, menatap wajah mereka satu sama lain tanpa harapan apapun. Seorang yeoja menangis, membuat beberapa yeoja lain disekelilingnya ikut menangis, begitu juga Min ah yang berada disampingku. Dan jeritan Hyerin sunbae yang mulai terdengar dimana-mana.

XX SKIP XX

“Kau harus tidur,” aku menaikkan selimut Min ah seraya tersenyum tipis

“Apakah masih ada hari esok?”

Aku jelas terhenyak mendengar perkataan Min ah “Ne, tentu saja.Kita bertiga akan selalu bersama sampai besok,” aku menggenggam tangan dinginnya dengan lembut. Dan tiba-tiba tangan lain ikut menggenggam tangan kami dengan hangat.

“Ya, kita akan selalu bersama kawan,” So jung tersenyum pahit. Membuat Min ah kembali menangis, diikuti air mataku sendiri yang mengguyuri kedua pipiku. Kami bertigapun akhirnya menangis bersama dalam pelukan piluh kami.
XXXX
Sebuah bayangan hitam pekat dengan sebilah pisau besar yang ia genggam berjalan pelan menyusuri jalan setapak penuh lumut. Matanya merah darah, jubah hitamnya meliuk-liuk terkena hembusan angin, sedangkan kuku tajamnya mencuat panjang dari jari-jari penuh gumpalan daging manusia.

Aku hanya bisa berdiri dengan baju tidurku, menatapnya tajam.Dan mulai menelunjukkan jemariku tepat kearahnya.

“Mengapa kau lakukan semua ini pada kami, apa salah kami!”

Dia hanya berdesir, tak mengelurkan suara apapun yang dapat ku mengerti. “KENAPA KAU LAKUKAN INI PADA KAMI!!”

WUSSSH.. CROTT!!

Bayangan pekat itu melayang terbang, menghunuskan dengan cepat sebilah pisau itu tepat mengenai perutku.Menariknya, merobek kulit perutku hingga mengeluarkan seluruh isinya. “Bughh..,” Dan berakhir jatuh tak berarti diatas tanah...
XXXX
“Haaa~” aku terbangun dari mimpi burukku dengan nafas yang terasa sangat berat.Dan entah mengapa wajahku terasa basah karena guyuran keringat yang tak tuketahui sejak kapan berada disekujur tubuhku.Dengan cepat akupun langsung menarik selimutku, berdiri mencari tombol lampu yang tak berada jauh diatasku. “So jung-ah,”

Sejenak tak ada sautan apapun, sebelum akhirnya aku membuka mataku dengan benar dan menatap ranjang So jung dan Min ah yang berantakan tanpa tubuh-tubuh mereka yang terlentang disana.

“SO JUNG-AH!!” dengan cepat tanpa berpikir panjang aku langsung memberanikan diri keluar dan berlari mencari mereka diantara kegelapan malam tanpa seorangpun yang mincul.

“TOLOOONG!Adakah orang disini??” teriakku sekuat tenaga “DONGHYUN OPAA, dimana kau!!”

Grep.. Grepp..

Tiba-tiba terdengar sebuah suara aneh tepat di balik sebuah pohon pinus dekat camp namja.Suara aneh yang diiringi pekikan seseorang yang terdengar kesakitan.Kaki beserta tanganku sedari awal telah gemetar seperti lonceng, sedangkan kedua mataku sudah seperti tak bisa dikedipkan sedikitpun.Beranikah kau kesana, Rae in?

“A, arghh..,” pekikan itu mulai terdengar jelas, dan aku tetap memberanikan jiwaku untuk tetap melangkah pelan mendekati pohon pinus itu.

“A a a a..,” mataku tiba-tiba terbelalak, tanpa berkedip dengan mulut yang terus mengangah “Y, youngmin-ah,” pandanganku hanya tertuju pada namja blonde itu. Ya, Jo Youngmin yang menghunuskan sebuah pisau tajam tepat menembus perut seorang namja berambut kelam.Terus menerus tanpa henti, hingga tak ada suara kesakitan lagi yang keluar dari mulut penuh lumuran darah itu.

Seketika tanpa ku duga Youngmin menatapku dengan begitu tajam, tatapan yang penuh dengan kekejaman.Sedangkan wajah tampannya telah dipenuhi cipratan darah yang hampir menutupi seluruh pipinya.Membuatku makin merinding ketakutan, tanpa ku sadari langkah kakiku dengan perlahan berjalan mundur. Membuat ia semakin menatap tajam tubuhku, dan dengan cepat berlari melesat ke arahku.

“Andwae!!”

Dengan sekuat tenaga aku berusaha berlari, berlari sekencang-kencangnya tanpa arah. Air mata terus mengguyur, aku menangis pilu memikirkan semua orang yang pernah tersenyum, memberi harapan yang sebenarnya samarpadaku. Haruskah kalian menghilang? Kalian masih ada kan? So jung, Min ah, Sehoon.. Kalian dimanaaaa!!

BUKKK..
XXXX

Sringgg..Sriiing..

“So jung-ah~, kau dimana?” udara terasa sangat dingin, menusuk tajam tepat menembus tulangku. Perlahan aku berusaha membuka kedua kelopak mata, memaksanya untuk bangkit.Namun sangat berat, sangat berat.Dan buram.

“S, siapa kau?” tepat dihadapanku seorang namja berpakaian biru muda berdiri dengan sebuah belati tajam, wajahnya tak begitu jelas, seperti tersenyum padaku.Namun aku tak yakin.

Sejenak aku ingin meregahkan bahuku yang entah sedari kapan terasa sangat sakit.Dan sejak itulah aku baru sadar.Seluruh tubuhku diikat dengan tali, menekannya dengan sangat kuat sehingga membuatku sedikit sulit untuk bernafas.

“Sehoon-ah?” akhirnya kedua mataku bisa melihat dengan jelas bagaimana rupa sosok itu.Ya, Sehoon. Seorang namja yang saat ini mengasah sebuah pisau pada benda yang aku sendiri tak tau apanamanya.

“Kau sudah bangun,” suaranya terdengar agak aneh “Rae in,”

“Sehoon, itu kah kau?” entah mengapa aku mulai menangis “KAU KAH YANG MELAKUKAN SEMUA INI??”

Ia dengan cepat memutar sebuah kursi, menaruhnya tepat dihadapanku dan duduk menatapku dengan sebuah cengiran bulus “Kejutan~, tidakkah ini sangat menarik,” ia tersenyum kejam “Seorang yang awalnya seperti perisai bagimu ternyata hanyalah iblis,”

“K,KENAPA KAU LAKUKAN SEMUA INI KEPADA KAMI??” aku sama sekali tak bisa menahan luapan emosiku, semuanya tumpah menjadi tangis dan teriakan yang sia-sia “WAE, WAE!!”

Awalnya ia hanya tetap menatapku dengan seulas senyuman kejam, namun entah mengapa Sehoon mulai mengalihkan pandangan dariku lantas menatap pisaunya dengan gusar “Dulu ada seorang anak kecil, anak kecil yang tak mengerti apa-apa. Selalu direndahkan orang, di hina, bahkan diperlakukan dengan kejam. Hidupnya hanya sebatang kara dengan seorang adik kecil yang selalu menemani hari-hari buruknya. Namun,pada suatu hari....,”

“Hyung, saat pulang nanti buatkan aku masakan yang paling enak!!”

“Ne, tentu saja. Aku menunggumu di rumah dengan semangkuk sup hangat.Cepat-cepatlah pulang, hyungmu akan menunggumu!”

“Ne, pai pai...,”

“Dan sialnya saat bocah bodoh itu terus menunggu dongsaeng kecilnya..Tiap detik, tiap menit, bahkan tiap malam. Ia tak pernah lagi melihat kaki kecil melangkah memasuki pintu tua itu.” tanpa ku duga namja itu menangis tepat dihadapanku “Hingga seorang bajingan menelefon, memberitahu bahwa ada seonggak mayat anak kecil yang di temukan mengambang didanau Kyagi. Awalnya mereka mengira itu hanyalah sebuah kecelakaan.Namun ketika diteliti lebih lanjut, semua badan kecilnya di penuhi luka lebam dan memar. Bahkan ada bekas jari-jari berwarna merah darah disekitar batang lehernya,”

Ia tetap menangis piluh, membuatku entah mengapa terpancing oleh tangisnya. Akupun mulai mengangkat wajahku, menatapnya dengan derai air mata “H, hanya itu?”“Kau membunuh semua orang tak bersalah hanya karena kasus kematian dongsaengmu yang belum terselesaikan??”

“KAU KIRA AKU BODOH!!” tiba-tiba ia membentakku, menendang kursi yang tadinya ia duduki hingga terpental membentur dinding gudang camp dengan keras “Setelah membunuh anak kecil yang tak berdosa, dia masih mendirikan campnya tanpa memperdulikan kejadian apa yang telah ia lakukan..! Tiap tahun ia selalu memasukkan murid baru, menjadikan mereka anggota camp bodohnya. TANPA memperingati hari kematian seorang anak yang mati karena mengikuti perkemahan BUSUKNYA sendiri!!”Ia berdiri dengan langkah gontai, menatapku dengan tatapan mengerikan. Seperti orang gila “KAU TAU SIAPA DIA? APA KAU TAU!!”

Aku hanya menangis ketakutan dengan perlahan menggelengkan kepalaku yang masih terasa sangat berat.

“KAU TAK TAU?” ia mengangkat belati itu tepat ke arah wajahku “DIA DONGHYUN, BODOH!!”

Sontak aku hanya bisa terdiam membatu, tercengang dengan perkataan Sehoon “T, tidak mungkin! KAU HANYA PEMBOHONG!!” teriakku sekencang-kencangnya

“Ya, seperti yang ku perkirakan.KAU TAK AKAN PERCAYA,” Sehoon menjilat lembut pisau yang sedikit menyilaukanku lantas tersenyum pahit “Dunia tak sebaik seperti perkiraanmu chagi, tak ada orang baik, semua hanya palsu!” ia meninggikan nada bicaranya seraya melotot tajam ke arahku “Suatu saat nanti kau pasti akan mengerti bahwa semua hanyalah iblis. Kau bisa saja masuk kedalam kamar pemimpin dan melihat ia menjilati kaki isterinya seperti anjing. Kau masuk kedalam tempat suci dan melihat pendeta bermain judi dengan sebotol alcohol.Kau masuk kedalam rumah seorang pemuka agama dan melihat mereka memotong kepala anaknya.” “Ketahuilah, tak ada lagi orang bersih didunia ini,”

“ANIO, KAU SALAH!!”

“Benarkah, jika aku salah mengapa kenyataan sepahit ini,” ia memalingkan wajahnya tepat kearah pintu gudang yang dipenuhi cipratan darah kering “MASUKLAH!!”

Seketika dua orang yang tak asing lagi bagiku masuk kedalam gudang dengan pakaian yang basah akan darah-darah segar. “Rae in-ah, cepat sekali kau bangun!” seorang yeoja tersenyum padaku.Ya, seorang sunbae yeoja yang selama ini ku kira sebagai sunbae teramah di camp ternyata hanyalah seorang iblis bajingan.

“H, hyerin sunbae?” mataku terbelalak dan entah mengapa sulit untuk kupejamkan sedikitpun. Dengan cepat aku pun mulai menatap seorang lagi, seorang namja bertampang manis yang berada tepat di sampingnya.

“Kau masih ingat denganku~” ia tersenyum lebar dengan melambaikan tangan berdarahnya ke arahku

“KAU BAJINGAN!!”  tanpa pikir panjang aku melemparkan sebuah cairan ludah tepat mengenai wajahnya.

“K,KAU!!” dengan refleks ia melangkah cepat kearahku, hendak memukul kepalaku dengan tongkat besi yang ia genggam.

“JINYOUNG!!” tiba-tiba Sehoon menahan langkah Jinyoung seraya menatapnya dengan sangat tajam “Yeoja ini bagianku, urus saja milikmu!”

Sejenak namja berambut kelam itu masih menatapku dengan tatapan yang menakutkan, sebelum akhirnya ia membuka pintu dan mengeluarkan seorang yeoja penuh guyuran darah yang berbau sangat amis dari balik pintu. Dan dengan kasar menarik rambutnya hingga berhadapan begitu dekat denganku.

“R, Raeee in-ah...,” sejenak yeoja itu mengangkat wajah yang penuh desirandarah segaruntuk penatapku, dan dengan cepat tersungkur lagi jatuh keatas tanah.

“SO JUNG-AH!!”teraikku sekuat-kuatnya, mencoba melepaskan ikatan tali yang melilit tubuhku dengan kencang. Namun jinyoung dengan cepat menarik kaki So jung, membuat tubuhnya semakin lama semakin manjauh dariku. So jungpun hanya menatapku dengan kedua mata lebamnya dan darah yang mengalir deras dari kepala yang membasahi rambut indahnya hingga berwarna merah. “ANDWAE, JANGAN MENYAKITI SO JUNG...!!”

BRAKK...!!

“Selesai,” Jin young tersenyum tipis seraya melemparkan sebatang besi yang kini berlumuran darah ke arah Sehoon.

“S, so jung. SO JUNG-AH!!” teriakku sekuat tenaga yang kemudian menangis sepuas-puasnya, menatap benci semua orang yang saat ini berdiri tegak disekelilingku dengan mataku yang telah memerah.

“Bagaimana dengan Ji min?” ucap Sehoon datar

“Dia mati saat ingin membunuh seorang siswa,”

“Dasar lemah,”

Dengan perlahan aku mulai menghela nafas dan mengangkat wajahku, wajah yang saat ini telah basah oleh air mata kepediahan yang jatuh sia-sia. “Bagaimana kalian membunuh 26 siswa yang memberontak keluar daricamp?” ucapku menahan tangis. Entah mengapa pikiranku sudah tak karuan, tangan dan kakiku sendiripun terasa ringan.Seperti melayang.

“Ahh, itu mudah.Tinggal melepaskan 20 ekor serigala kelaparan didepan mereka, bukankah itu cerdas?” Hyerin melemparkan sebuah senyuman manis tak bersalah ke arahku, dan dengan cepat aku membalasnya dengan teriakan yang mungkin akan menggema diseluruh penjuru hutan.

“BAJINGAN KALIAN. KALIAN BENAR-BENAR BUKAN MANUSIA, KALIAN IBLISS !!”

“Hahahah..berteriaklah sesuka hatimu!” Jinyoung tergelak tanpa menatapku

“Kalian pergilah, urus semua mayat yang berserakan di camp,” Sehoon membuka pintu dengan kasar “Yeoja ini..biar aku yang menyelesaikannya,” imbuhnya menyeringai tipis, dan entah mengapa kali ini aku tak merasakan ketakutan apapun dibenakku. Sama sekali tak merasakan takut akan kematian.

“Baiklahh,” “Sampai jumpa di neraka, Rae in!”Jinyoung beserta Hyerin mulai melangkah keluar.Dan menghilang begitu saja dalam kegelapan malam.

“Kita sendirian sekarang, hanya kau dan aku..”Sehoon mulai mendekat, berdiri tepat dihadapanku dengan pandangan tajam menatapku “Rae in, kau sebenarnya yeoja yang sangat baik,” ia mengangkat belati tajamnya tepat diatas kepalaku “Tapi maaf, karena pisauku ini sudah tak sabar untuk menembus isi kepalamu!” dengan refleks aku menutup kedua mataku dengan rapat, sangat rapat hingga tidak memungkinkan untuk ku buka lagi.

CROOOTT...~~~

“A, apakah aku sudah mati?” tak ada rasa sakit, perih, bahkan darah yang terasa mengalir dari kepala.Dengan rasa ngeri, aku mulai membuka kedua mataku secara perlahan.Menatap tubuh Sehoon yang membatu tepat dihadapnku dengan mata yang membola lebar.

Crooott..
Baru ku sadari sebuah pisau tajam menembus perutnya hingga ujung pisau itu muncul dari kulit perut Sehoon.Darahnya mengalir deras, sangat deras beserta gumpalan daging kecil yang akhirnya berjatuhan tak berdaya di bawah tanah.

Bukkk..
Sejenak Sehoon masih menatapku dengan tajam, hingga akhirnya tubuh tak bernyawa itu tersungkur tepat pada ujung kakiku.Memperlihatkan tubuh seorang namja berambut blonde yang masih termenung menatap mayat itu dengan cipratan darah yang memenuhi seluruh wajahnya.

Aku hanya terdiam beku, menatap tak percaya wajah Youngmin dengan lekat. “Apa kau baik-baik saja?” ia melepaskan tali kasar yang melilit tubuhku dan dengan lembut memelukku. “Bertahanlah, bantuan akan segera datang,” Youngmin membantuku berjalan, karena kakiku yang masih bergetar dan sulit untuk di gerakkan.

JLEPP.. Croott..
Sedetik aku berpura-pura tersenyum padanya, namun dengan cepat mengambil pisau yang ia genggam dan menusuk dadanya hingga darah segar menciprat keseluruh kulit wajahku.

“Kau kira aku bisa tertipu dengan mulut busukmu?” aku menekan pisau yang ku tancapkan tepat pada dadanya, membuat tubuh Youngmin dengan cepat tergerak mundur hingga membentur dinding gudang dengan keras.

Iapun lantas tertawa, namun kemudian ia menatapku dengan lekat dan tersenyum pahit. “Kau kira aku iblis seperti mereka?”

“Kau membunuh seorang namja dekat camp, dan kau berusaha mengejarku dengan sebilah pisau berdarah yang kau genggam!!” teriakku frustasi “APA KAU PIKIR AKU BUTA!!”

“S, seharusnya kau melihat siapa yang saat itu ku bunuh,” ucapnya parau.Membuat ku mengingat kembali saat-saat dimana aku melihatnya menusukkan sebuah pisau berkali-kali pada perut seorang namja.Ya, seorang namja yang baru ku ingat wajahnya.Kang Ji min sunbae.“Kau seharusnya mengingat bagaimana wajahnya saat membunuh 26 teman kita,” ia menelan darah yang hendak keluar dari mulutnya “Membuat ku menusuknya bertubi-tubi, karena aku merasakan derita teman-temanku yang dimangsa serigala iblis itu,”

“T, tidak, TIDAK!DIAM KAU!!” teriakku menutup rapat-rapat kedua telingaku.

Youngmin akhirnya memuntahkan darah berwarna merah kental dan tersenyum pahit untuk kesekian kalinya dengan tubuh yang tersangga pada dinding gudang “R, rae in..Naneun saranghae,” ucapnya parau yang sontak membuatku makin merasa bersalah.

“DIAMLAH!!!”

“Percayalah, aku bukan pembunuh. Setiap hari aku menatapmu karena aku menyukaimu, untuk pertama kalinya aku menyukai yeoja pada pandangan pertama,” aku menangis sekencang-kencangnya, berusaha tak mendengarkan perkataan Youngmin

“Youngmin-ah, diamlah. Ku mohon diamlah,”

“Ya, aku akan diam jika mati,” dengan cepat tanpa rasa takut akan Youngmin lagi, aku memeluknya dengan erat, mendekapnya dengan derai air mata yang masih berlinangan jatuh membasahi pipiku “A, aku hanya ingin memberimu ini. Setiap kali aku mendekatimu, kau selalu bersama seseorang. Membuatku melangkah mundur,” ia menumpahkan cairan merah, dengan tangan bergetar yang memberiku sebuah gantungan berliontin bintang yang sangat indah.

Sejenak aku masih menatapnya lekat, hingga tangan yang tadinya membawa sebuah gantungan terkulai lemas, jatuh tepat bersentuhan dengan tanganku. Membuatku jelas tersentak kaget dan dengan cepat merengkuhnya dengan erat, menangis sepuas-puasnya seraya menatap tubuh So jung san Sehoon yang berlumuran darah tanpa nyawa.

XXXX
Mungkin aku akan mengingat kalian dan kenangan ini sampai aku mati,” kaki-kaki lemasku berjalan mengelilingi camp pada kegelapan dengan mayat-mayat penuh derita yang berserakan disekitarku.“Donghyun sunbae,” seonggak kepala tanpa tubuh bergantungan di atas dahan pohon, seperti menatapku.

“Min ah,” seonggak tubuh tak bernyawa tersungkur dengan besi tajam yang menembus punggungnya “So jung dan Youngmin,” aku menatap mayat yang berbaring di samping kakiku, karena sejak beberapa menit yang lalu aku menyeret tubuh mereka keluar dari gudang dengan susah payah. Ya, gudang yang telah ku bakar tanpa menyisakan apapun.

“Sehoon-ah,” aku mulai memutar bola mataku tepat ke arah gudang yang telah lahap api besar, api besar yang membara seperti menampakkan wajah iblis dari garis luapan apinya. “Jinyoung..Hyerin,” mau tak mau aku harus rela menatap dua tubuh yang terkulai tepat didepan ujung kakiku.

“Youngmin yang membunuhmu?” aku menendang tubuh itu dengan pelan, dan seperti yang ku duga. Mereka tak bergerak sedikitpun, hanya darah yang mengalir makin deras keluar dari tubuh mereka saat aku memeperkuat tendanganku “Kasian sekali,”

Aku masih mengelilingi camp, menatap satu persatu wajah tak bernayawa mengerikan mereka. Berbagai rupa yang berbeda dengan darah yang berwarna sama.

Ya, aku memang tak akan bisa melupakan kalian. Maka dari itu, aku akansenantiasa menyusul kalian kedalam neraka. Tertawa bersama Sehoon..kekekeke, tidakkah itu terdengar menyenangkan?

Sejenak aku tergelak sendiri diantara meyat-mayat yang memang kutaruh menumpuk mengelilingi tubuhku.Seperti disaat mereka masih hidup, kami terbiasa membentuk lingkaran dengan Donghyun sunbae yang berada di tengah. Namun.. Kali ini aku yang akan di tengah. Benarkan Donghyun sunbae?

Perlahan aku mengelus kepala itu, menatapnya dan tertawa lepas seraya mengusap darah yang mengalir dari leher yang telah terlepas...

“Aku datang...,”

DOOORRR....!!

====FIN=====

Waaa..kejam sekali XD
Eh eh, yang biasnya mati disini(?) jangan keburu loncat dari atap ne *lebeh.. Ini cuma karya fiksi, murni di rekayasa oleh penulis #ya iyalah
Oleh karena itu saya sebagai author mengucapkan maaf sebesar-besarnya karena udah ngebuat kalian merinding kejeng baca ini FF :D

Yang udah baca wajib RCL, i hate silent readers. Dan karena ini FF khusus untuk lomba jadi author mohon untuk LIKE dan KOMEN ya.. Karena like dan komentar kalian dihitung untuk penilaian^^
Khamsahamnida sebelumnya karena udah sempat-sempatnya baca FF mengerikan ini..Pai Paiiii semua #nunduk 360 derajat (?)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar